Assalamualaikum w.w
Segla puji bagi Allah, kita memuji Nya, meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuknya
Contoh # 1
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ
Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan,
pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari
kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari
petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang
siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah
hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada
Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat
petunjuk hingga hari kiamat.
- See more at: http://panduanseoku.blogspot.co.id/2014/06/kumpulan-contoh-kultum-dan-ceramah-terbaik.html#sthash.7ldlX7lo.dpufContoh # 1
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ
Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan,
pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari
kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari
petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang
siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah
hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada
Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat
petunjuk hingga hari kiamat.
- See more at: http://panduanseoku.blogspot.co.id/2014/06/kumpulan-contoh-kultum-dan-ceramah-terbaik.html#sthash.7ldlX7lo.dpufKita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.
Jamaah shalat Isya dan shalat taraweh yang Insya Allah mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, ada 3 terminologi yang sering kita dengar pada ceramah ataupun kultum ramadhan yang disampaikan para kyai, para ustad, para mubalig, dan para santri dalam rangka proses menginggatkan dan kembali belajar tentang ramadhan, ketiga terminologi itu adalah: pertama Al-Quran, kedua puasa (shaum) dan yang ketiga taqwa.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ketiga terminologi memilliki hubungan yang saling mendukung satu sama lain
Bukankah Al Quran sebagai firman
Tuhan jelas diturunkan pada bulan puasa? Sementara berpuasa diwajibkan
karena ada firman Tuhan dalam Al Quran? Adapun terminologi ketiga “taqwa
atau bertaqwa” adalah esensi dan tujuan utama diwajibkannya kaum
beriman untuk berpuasa, yang oleh Allah disebut pada akhir ayat tentang
perintah berpuasa: “agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”.
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang berbahagia
Oleh karena itu, dapat kita ketahui bahwa salah satu hikmah dari
puasa Ramadhan adalah dapat mengantarkan umat menuju taqwa. Sebagaimana
firman Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 183:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,”
Kata taqwa ( التَقْوَى ) berasal dari Wiqoyah ( الوِقَايَة ) yaitu
kalimat yang menunjukkan penolakan terhadap sesuatu. Al-Wiqoyah berarti
apa yang menghalangi sesuatu.
Maka, taqwa seorang hamba kepada Robbnya berarti menjadikan
penghalang antara dia dengan apa yang ditakuti dari Robbnya berupa
kemurkaan, kemarahan dan siksaanNya yaitu dengan cara menta’atiNya dan
menjauhi maksiat kepadaNya.
Secara bahasa arab, taqwa berasal dari fi’il ittaqa-yattaqi,
yang artinya berhati-hati, waspada, takut. Bertaqwa dari maksiat
maksudnya waspada dan takut terjerumus dalam maksiat. Secara istilah,
definisi taqwa sebagaimana yang diungkapkan oleh Thalq Bin Habib
Al’Anazi:
العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ
اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ
عَذَابِ اللهِ
“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”
“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”
Demikianlah sifat orang yang bertaqwa. Orang yang bertaqwa
beribadah, bermuamalah, bergaul, mengerjakan kebaikan karena ia teringat
dalil yang menjanjikan ganjaran dari Allah Ta’ala. Demikian juga
orang bertaqwa senantiasa takut mengerjakan hal yang dilarang oleh
Allah dan Rasul-Nya, karena ia teringat dalil yang mengancam dengan
adzab yang mengerikan. Sehingga orang yang bisa melakukan hal tersebut
akan dimuliakan di sisi Allah.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13)
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13)
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang berbahagia
Dalam ayat 2-4 Surat al-Baqoroh, Allah menyebutkan tentang cirri-ciri orang yang bertaqwa:
Artinya: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya,
petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada
yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki
yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada
kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang
telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan)
akhirat.”
Kalau dikaitkan dengan pengertian taqwa dari ayat tersebut, maka
ciri-ciri orang bertaqwa sebagai essensi berpuasa menurut al-Quran
adalah sebagai berikut:
Pertama, ciri orang bertaqwa adalah orang yang beriman kepada yang ghaib.
Nampaknya Allah memang mendesain puasa sebagai sarana latihan agar
orang-orang yang beriman bertambah kepercayaannya kepada yang ghaib. Dan
pusat keghaiban adalah Allah itu sendiri. Dengan keimanan kepada adanya
Dzat yang ghaib yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha
Memperhatikan segala gerak-gerik manusia, seseorang secara tidak
langsung dilatih untuk selalu berbuat baik. Ketika berpuasa, setiap
orang beriman sedang di latih untuk menghadirkan yang ghaib “Tuhan”
dalam segala ruang dan waktu. Bukankah seseorang yang sedang berpuasa
tatkala menyendiri di ruangan kantor, kamar yang terkunci atau tempat
lain yang tidak dilihat orang bisa saja makan, minum dan berpura-pura
bahwa dia sedang berpuasa ketika dihadapan orang banyak. Dengan adanya
kesadaran kehadiran yang ghaib atau Allah dalam diri orang yang
berpuasa, kecenderungan untuk berbuat curang atau berbohong akan
terhindarkan, dan semangat untuk selalu berbuat yang terbaik akan tumbuh
karena ada kontrol sosial yang melekat dalam dirinya.
Kedua, orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu mendirikan shalat.
Karakter taqwa ini pun dalam bulan puasa sedang digembleng oleh Allah.
Di bulan puasa umat Islam bukan hanya dilatih untuk menjalankan shalat
yang sipatnya wajib, bahkan shalat yang sunnah seperti shalat malam (tarawih)
sangat dianjurkan di bulan ini. Harapannya, setelah puasa, fungsi
shalat sebagai pencegah dari perbuatan keji dan munkar bisa
direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari diluar ramadhan.
Karakteristik ketiga disebut orang bertaqwa adalah orang yang menafkahkan sebagian rizkinya.
Di bulan ramadhan ini, anjuran untuk zakat, infaq dan shadaqah
betul-betul ditekankah. Dengan menggandakan pahala yang berlipat-lipat,
Allah sedang melatih keshalihan sosial seorang Muslim di bulan ramadhan.
Dengan harapan kesadaran sosial menafkahkan harta untuk membantu fakir
miskin terus dijalankan oleh orang Islam diluar ramadhan.
Keempat, disebut orang bertaqwa kalau seseorang mempercayai bahwa Allah telah menurunkan kitab suci kepada Muhammad (Al-Quran) dan kitab-kitab
yang turun sebelum Rasul terakhir itu. Nampaknya Allah ingin melatih
orang Islam di bulan ramadhan agar sadar akan adanya tuntunan hidup
menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu Al-Quran. Membaca dan
mempelajari al Quran sangat ditekankan di bulan ini. Kepercayaan akan
adanya kitab sebelum rasul Muhammad, juga merupakan kepercayaan kepada
yang ghaib.
Kelima, ciri orang bertaqwa yang disebut Al Quran adalah orang-orang yang mempercayai akan adanya hari akhirat.
Ini berarti semakin menegaskan karakter pertama orang disebut taqwa
yaitu percaya kepada yang ghaib. Bukankah kepercayaan adanya hari
akhirat dan hari pembalasan juga termasuk kepercayaan kepada yang ghaib.
Dengan keyakinan akan adanya hari akhirat, setiap Muslim diharapkan
mempunyai semangat hidup yang optimis untuk selalu berbuat baik, dengan
harapan memperoleh pula kebaikan ketika hidup kembali setelah kematian.
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang dimulyakan oleh Allah
Lantas apakah hubungan antara puasa dengan ketaqwaan? Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah dalam
tafsirnya mengatakan, tentang keterkaitan antara puasa dengan
ketaqwaan: “Puasa itu salah satu sebab terbesar menuju ketaqwaan. Karena
orang yang berpuasa telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi
larangannya. Selain itu, keterkaitan yang lebih luas lagi antara puasa
dan ketaqwaan:
- Orang yang berpuasa menjauhkan diri dari yang diharamkan oleh Allah berupa makan, minum jima’ dan semisalnya. Padahal jiwa manusia memiliki kecenderungan kepada semua itu. Ia meninggalkan semua itu demi mendekatkan diri kepada Allah, dan mengharap pahala dari-Nya. Ini semua merupakan bentuk taqwa’
- Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan menjauhi hal-hal yang disukai oleh nafsunya, padahal sebetulnya ia mampu untuk makan, minum atau berjima tanpa diketahui orang, namun ia meninggalkannya karena sadar bahwa Allah mengawasinya
- Puasa itu mempersempit gerak setan dalam aliran darah manusia, sehingga pengaruh setan melemah. Akibatnya maksiat dapat dikurangi
- Puasa itu secara umum dapat memperbanyak ketaatan kepada Allah, dan ini merupakan tabiat orang yang bertaqwa
- Dengan puasa, orang kaya merasakan perihnya rasa lapar. Sehingga ia akan lebih peduli kepada orang-orang faqir yang kekurangan. Dan ini juga merupakan tabiat orang yang bertaqwa.
Jamaah sholat tarawih yang dimulyakan Allah
Oleh karena itu, marilah kita di bulan Ramadhan ini berusaha untuk
menggapai ketaqwaan kepada Allah. Karena hanya dengan puasa saja tanpa
ada usaha kita menuju ke ketaqwaan juga tidak akan bisa. misalnya kita
hanya rajin ibadah hanya di bulan Ramadhan saja. Setelah keluar bulan
Ramadhan ibadah kita kembali seperti semula atau bolong-bolong.
Semoga puasa kita dapat menjadi saksi dihadapan Allah tentang keimanan kita kepada-Nya. Dan semoga puasa kita mengantarkan kita menuju derajat taqwa, menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Ta’ala.
- See more at: http://panduanseoku.blogspot.co.id/2014/06/kumpulan-contoh-kultum-dan-ceramah-terbaik.html#sthash.7ldlX7lo.dpufSemoga puasa kita dapat menjadi saksi dihadapan Allah tentang keimanan kita kepada-Nya. Dan semoga puasa kita mengantarkan kita menuju derajat taqwa, menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Ta’ala.
Bukankah Al Quran sebagai firman Tuhan jelas diturunkan pada bulan puasa?
Sementara berpuasa diwajibkan karena ada firman Tuhan dalam Al Quran? Adapun
terminologi ketiga “taqwa atau bertaqwa” adalah esensi dan tujuan utama
diwajibkannya kaum beriman untuk berpuasa, yang oleh Allah disebut pada akhir
ayat tentang perintah berpuasa: “agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”.
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang berbahagia
Oleh karena itu, dapat kita ketahui bahwa salah satu hikmah dari puasa Ramadhan adalah dapat mengantarkan umat menuju taqwa.
Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 183:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,”
Kata taqwa ( التَقْوَى ) berasal dari Wiqoyah ( الوِقَايَة ) yaitu kalimat
yang menunjukkan penolakan terhadap sesuatu. Al-Wiqoyah berarti apa yang
menghalangi sesuatu.
Maka, taqwa seorang hamba kepada Robbnya berarti menjadikan penghalang
antara dia dengan apa yang ditakuti dari Robbnya berupa kemurkaan, kemarahan
dan siksaanNya yaitu dengan cara menta’atiNya dan menjauhi maksiat kepadaNya.
Secara bahasa arab, taqwa berasal dari fi’il ittaqa-yattaqi,
yang artinya berhati-hati, waspada, takut. Bertaqwa dari maksiat maksudnya
waspada dan takut terjerumus dalam maksiat. Secara istilah, definisi taqwa
sebagaimana yang diungkapkan oleh Thalq Bin Habib Al’Anazi:
العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ،
وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ
“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”
“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”
Demikianlah sifat orang yang bertaqwa. Orang yang bertaqwa beribadah,
bermuamalah, bergaul, mengerjakan kebaikan karena ia teringat dalil yang
menjanjikan ganjaran dari Allah Ta’ala. Demikian juga orang bertaqwa
senantiasa takut mengerjakan hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, karena
ia teringat dalil yang mengancam dengan adzab yang mengerikan. Sehingga orang
yang bisa melakukan hal tersebut akan dimuliakan di sisi Allah.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13)
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13)
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang berbahagia
Dalam ayat 2-4 Surat al-Baqoroh, Allah menyebutkan tentang cirri-ciri orang
yang bertaqwa:
Artinya: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya,
petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib,
yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan
kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah
diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta
mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”
Kalau dikaitkan dengan pengertian taqwa dari ayat tersebut, maka ciri-ciri
orang bertaqwa sebagai essensi berpuasa menurut al-Quran adalah sebagai
berikut:
Pertama, ciri orang bertaqwa adalah orang yang beriman kepada yang ghaib. Nampaknya
Allah memang mendesain puasa sebagai sarana latihan agar orang-orang yang
beriman bertambah kepercayaannya kepada yang ghaib. Dan pusat keghaiban adalah
Allah itu sendiri. Dengan keimanan kepada adanya Dzat yang ghaib yang Maha
Melihat, Maha Mendengar dan Maha Memperhatikan segala gerak-gerik manusia,
seseorang secara tidak langsung dilatih untuk selalu berbuat baik. Ketika
berpuasa, setiap orang beriman sedang di latih untuk menghadirkan yang ghaib
“Tuhan” dalam segala ruang dan waktu. Bukankah seseorang yang sedang berpuasa
tatkala menyendiri di ruangan kantor, kamar yang terkunci atau tempat lain yang
tidak dilihat orang bisa saja makan, minum dan berpura-pura bahwa dia sedang
berpuasa ketika dihadapan orang banyak. Dengan adanya kesadaran kehadiran yang
ghaib atau Allah dalam diri orang yang berpuasa, kecenderungan untuk berbuat
curang atau berbohong akan terhindarkan, dan semangat untuk selalu berbuat yang
terbaik akan tumbuh karena ada kontrol sosial yang melekat dalam dirinya.
Kedua, orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu mendirikan shalat.
Karakter taqwa ini pun dalam bulan puasa sedang digembleng oleh Allah. Di bulan
puasa umat Islam bukan hanya dilatih untuk menjalankan shalat yang sipatnya
wajib, bahkan shalat yang sunnah seperti shalat malam (tarawih) sangat
dianjurkan di bulan ini. Harapannya, setelah puasa, fungsi shalat sebagai
pencegah dari perbuatan keji dan munkar bisa direalisasikan dalam kehidupan
sehari-hari diluar ramadhan.
Karakteristik ketiga disebut orang bertaqwa adalah orang yang
menafkahkan sebagian rizkinya. Di bulan ramadhan ini, anjuran untuk zakat,
infaq dan shadaqah betul-betul ditekankah. Dengan menggandakan pahala yang
berlipat-lipat, Allah sedang melatih keshalihan sosial seorang Muslim di bulan
ramadhan. Dengan harapan kesadaran sosial menafkahkan harta untuk membantu
fakir miskin terus dijalankan oleh orang Islam diluar ramadhan.
Keempat, disebut orang bertaqwa kalau seseorang mempercayai bahwa Allah telah
menurunkan kitab suci kepada Muhammad (Al-Quran) dan kitab-kitab yang turun
sebelum Rasul terakhir itu. Nampaknya Allah ingin melatih orang Islam di bulan
ramadhan agar sadar akan adanya tuntunan hidup menuju kebahagiaan dunia dan
akhirat, yaitu Al-Quran. Membaca dan mempelajari al Quran sangat ditekankan di bulan
ini. Kepercayaan akan adanya kitab sebelum rasul Muhammad, juga merupakan
kepercayaan kepada yang ghaib.
Kelima, ciri orang bertaqwa yang disebut Al Quran adalah orang-orang yang
mempercayai akan adanya hari akhirat. Ini berarti semakin menegaskan karakter
pertama orang disebut taqwa yaitu percaya kepada yang ghaib. Bukankah
kepercayaan adanya hari akhirat dan hari pembalasan juga termasuk kepercayaan
kepada yang ghaib. Dengan keyakinan akan adanya hari akhirat, setiap Muslim
diharapkan mempunyai semangat hidup yang optimis untuk selalu berbuat baik,
dengan harapan memperoleh pula kebaikan ketika hidup kembali setelah kematian.
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang dimulyakan oleh Allah
Lantas apakah hubungan antara puasa dengan ketaqwaan? Syaikh Abdurrahman
bin Nashir As Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan,
tentang keterkaitan antara puasa dengan ketaqwaan: “Puasa itu salah satu sebab
terbesar menuju ketaqwaan. Karena orang yang berpuasa telah melaksanakan
perintah Allah dan menjauhi larangannya. Selain itu, keterkaitan yang lebih
luas lagi antara puasa dan ketaqwaan:
- Orang yang berpuasa menjauhkan diri dari yang diharamkan oleh Allah berupa makan, minum jima’ dan semisalnya. Padahal jiwa manusia memiliki kecenderungan kepada semua itu. Ia meninggalkan semua itu demi mendekatkan diri kepada Allah, dan mengharap pahala dari-Nya. Ini semua merupakan bentuk taqwa’
- Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan menjauhi hal-hal yang disukai oleh nafsunya, padahal sebetulnya ia mampu untuk makan, minum atau berjima tanpa diketahui orang, namun ia meninggalkannya karena sadar bahwa Allah mengawasinya
- Puasa itu mempersempit gerak setan dalam aliran darah manusia, sehingga pengaruh setan melemah. Akibatnya maksiat dapat dikurangi
- Puasa itu secara umum dapat memperbanyak ketaatan kepada Allah, dan ini merupakan tabiat orang yang bertaqwa
- Dengan puasa, orang kaya merasakan perihnya rasa lapar. Sehingga ia akan lebih peduli kepada orang-orang faqir yang kekurangan. Dan ini juga merupakan tabiat orang yang bertaqwa
Jamaah sholat tarawih yang dimulyakan Allah
Oleh karena itu, marilah kita di bulan Ramadhan ini berusaha untuk
menggapai ketaqwaan kepada Allah. Karena hanya dengan puasa saja tanpa ada
usaha kita menuju ke ketaqwaan juga tidak akan bisa. misalnya kita hanya rajin
ibadah hanya di bulan Ramadhan saja. Setelah keluar bulan Ramadhan ibadah kita
kembali seperti semula atau bolong-bolong.
Semoga puasa kita dapat menjadi saksi dihadapan Allah tentang keimanan kita kepada-Nya. Dan semoga puasa kita mengantarkan kita menuju derajat taqwa, menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Ta’ala.
Semoga puasa kita dapat menjadi saksi dihadapan Allah tentang keimanan kita kepada-Nya. Dan semoga puasa kita mengantarkan kita menuju derajat taqwa, menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Ta’ala.
KEUTAMAAN ORANG JUJUR
Ciri utama seorang muslim adalah jujur. Bukanlah dikatakan muslim
sejati jika seorang masih berbohong dan menipu. Rasulullah saw dalam
kehidupannya sehari – hari dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya. Karena
itu jujur merupakan akhlak yang sangat baik dan indah menurut pandangan Allah.
Sesungguhnya jika kita hidup di dunia ini memelihara kejujuran, maka kedamaian
akan dapat dirasakan oleh umat manusia. Orang – orang yang selalu bersikap
jujur dalam setiap tindakan dan ucapan, maka ia termasuk golongan yang
beruntung. Artinya, ia beruntung di dunia dan beruntung di akhirat.
Kita semua tentu sangat setuju bahwa jujur merupakan budi pekerti yang
mulia. Kejujuran dapat membimbing manusia menuju kebaikan. Apabila seseorang
telah jujur dan mampu menempatkan suatu kebaikan, maka ia terbimbing menuju ke
surgabukankah Rasulullah swa telah bersabda: “Sesungguhnya kejujuran
membimbing kea rah kebaikan. Dan kebaikan itu membimbingnya ke surge. Sesorang
yang jujur, maka hingga di sisi Allah ia akan menjadi orang yang jujur dan
benar. Sedangkan sifat dusta membimbing orang pada kejahatan. Lalu kejahatan
itu menyeret ke neraka. Sesorang yang biasa berdusta, maka hingga di sisi Allah
kelak tetap menjadi pendusta”. (HR Bukhari Muslim)
Orang yang suka berterus terang dan jujur dalam segala hal kehidupan ini,
maka ia termasuk memiliki sifat kenabian. Sebab tentu saja orang – orang yang
jujur ini suka sekali dengan kebenaran. Karena sukanya. Maka ia selalu
memelihara akhlaknya diri dari dusta. Karena itu ia cenderung untuk melakukan
kebaikan dan menegakkan kebenaran agama.
Allah berfirman : Dan sebutkanlah dalam Al Kitab tentang Ibrahim, bahwa
ia adalah seseorang yang benar dan jujur, lagi pula seorang nabi. (Q. S. Maryam
ayat 41).
Kejujuran itu dekat dengan kebenaran. Kebenaran adalah sesuatu yang
disenangi Allah. Jika Allah senang, maka pastilah dia akan mengasihi. Dan
hambaNya yang jujur, maka kelak di hari kiamat akan disediakan tempat yang
menyenangkan yaitu surga.
PENUTUP KULTUM
Demikianlah kultum yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat bagi hadirin
semua, jika ada kekuragan saya mohon maaf.
Pilih kalimat penutupnya
- Taqabbalallaahu minna waminkum taqabbal yaa kariimu, wassalaamu' alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Artinya:
"Semoga Allah menerima (apa-apa) yang datangnya dari kami dan dari kalian
semua. Engkaulah yang menerima wahai dzat yang Maha Mulia. Dan semoga keselamatan,
kesejahteraan, dan keberkahan tetap tercurahkan kepada kita semua"
- Ihdinash shiraathal mustaqiim, akhiirul kalaami wassalaamu' alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.
Artinya:
"Semoga memberikan petunjuk kepada kami jalan yang lurus (yakni agama islam).
Sampai disini pembicaraan kami. Dan semoga keselamatan, kesejahteraan, dan
keberkahan tetap tercurahkan kepada kita semua."
- Wal'afwu minkum wassalaamu' alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.
Artinya:
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian semua. Dan semoga
keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan tetap tercurahkan kepada kita
semua".


Tidak ada komentar:
Posting Komentar