Minggu, 05 Juni 2016

6 Perkara Yang Merusak Amal


6 Hal yang merusak amal
  وَبَرَكَاتُهُوَرَحْمَةُاللهِ اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ 
 ALHAmdulillah, segala puja dan puji syukur mutlak hanya milik Allah swt. Yang telah memberikan kenikmatan kepada kita, khususnya nikmat iman dan Islam serta kesehatan, yang mana tidak pernah sedetikpun Allah berhenti memberikan nikmatnya kepada kita semua. Khususnya hari ini, kita telah berada dibulan Syawal 1434 H. Yang mana satu bulan penuh kita telah dilatih dan dibiasakan dengan amalan-amalan dibulan suci Ramadhan, mudah-mudahan hari ini, kita benar-benar kembali kepada fitrah (suci, bersih, putih), seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. Aamiin.
            Shalawat beriring salam, semoga selalu tercurahkan kepada sosok seorang rasul utusan Allah yang ma’sum (terpelihara dari dosa dan kesalahan), rasul yang sangat mencintai umatnya dan mudah memaafkan sesamanya, rasul yang insya Allah akan memberikan syafa’at kepada kita di hari kemudian, beliaulah baginda Nabi besar Muhammad saw. Juga kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh umatnya yang tetap istiqamah dalam menjalankan sunnahnya hingga pada hari semua amal akan diperhitungkan.
Sepanjang satu bulan ramadhan yang telah kita lalui, menurut kemampuan yang ada pada diri kita, kita telah banyak mengisi waktu dengan berbagai kegiatan-kegiatan ibadah. Sejak puasa itu sendiri, i’tikaf di masjid, tadarus Al-Quran, melaksanakan shalat tarawih, menyantuni anak yatim, berbuka puasa bersama, dan seterusnya.
            Sungguhpun demikian, kita tetap harus melakukan muhasabah. Karena pada dasarnya ibadah merupakan satu dari keseluruhan yang bisa saja dirusak oleh hal-hal lain diluar ibadah itu sendiri. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal-hal yang demikian, saya ingin menyampaikan sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailami, dari ‘Addi bin Hatim. Bahwa Rasulullah saw bersabda :

سِتَّةُ اَشْيَاءَ تُحبِةُ الاَعمَالَ
                                                   Sittatu asyaa yuhobiitul akmala
“Ada enam perkara yang dapat merusak suatu amal”

Merusak shalat kita, merusak puasa kita, merusak zakat kita, bahkan merusak haji kita, dan seterusnya. Inilah yang harus kita waspadai. Kita merasa kita sudah melakukan amal begitu banyak, tahu-tahu dirusak oleh hal-hal lain yang ada pada diri kita.

Apakah ke enam perkara yang dapat merusal amal itu?

   Apa enam perkara yang dapat merusak amal itu ?

1.                                        لْإسْتِغَالُ بِعُيُوْبِ الْخَالْقِ
                      Al istighlal bi’uyubil kholqi
                         2                         .وَقَسْوَةُ الْقَلبِ
                                 Wa Qaswatul qulub (hati yang keras)
                                 3                     ;وَحُبُّ الدُّ نْيَا
                                Wa hubud dunia
                                 4                      .وَ كِلَّةُ الْحَيَاء
                               Wa Qillatul haya’(sedikit rasa malunya)
                                         5.                      وَطُوْلُ الْعَمَل
                              Wa Thulul amal (panjang angan-angan)
                                  6                     .وَ ظَالِمٌ لاَيَنْتَهِى
                              Dhulmun la yantahi (kezaliman yang tak pernah berhenti)
Yang pertama,
الْإسْتِغَالُ بِعُيُوْبِ الْخَالْقِ
“Seseorang terlalu sibuk mencari-cari aib, mencari-cari kekurangan orang lain”.

Sekarang ini oleh budaya kita, mencari dan membicarakan kekurangan orang lain bukan lagi hal yang tabu. Dikorek, dicari, kemudian berakhir dengan fitnah, dan begitu seterusnya. Dan itu merusak nilai amal yang sudah kita kerjakan. Sibuk dengan aib orang lain, lalu lupa kepada kekurangan dirinya sendiri. Bukankah dalam hadits lain Nabi mengajarkan :
تُوْبَ لِمَنْ سَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ
Beruntunglah orang yang kekurangan pada dirinya menyebabkan dia sibuk, sehingga tidak sempat lagi mencari-cari kekurangan orang lain”.

Tapi sebaliknya, akan sangat celakalah orang, kalau waktunya habis untuk mencari aib dan kekurangan orang lain, lalu melupakan aib dan kekurangan yang ada pada dirinya sendiri.

            Sibuk dengan aib dan kekurangan orang lain, dan asik tenggelam didalamnya. Membicarakan si A, membicarakan si B, membicarakan si ini, membicarakan si itu. Sehingga menyebabkan kita terlena dan tidak sadar akan aib dan kekurangan yang ada pada diri kita.

Dalam dunia jurnalistik ada ungkapan “Bad news is good news” (berita jelek itulah berita bagus). Berita yang bagus biasa-biasa saja. Tapi berita yang jelek kalau diangkat ke permukaan, dikemas sedemikian rupa, bisa menjadi berita yang bagus, sehingga menarik, kejutan, membuat penasaran, menimbulkan rasa ingin tahu, dan bagitu seterusnya.

            Termasuk dalam konteks ini, setiap hari sekarang ini kita dijejali dengan tayangan-tayangan yang sibuk dengan aib dan kekurangan orang lain. Sehingga lalu itu menjadi budaya kita. Dan hal-hal yang tabu tidak lagi dianggap tabu, hal-hal yang sebenarnya memalukan sudah dianggap tidak memalukan, sementara sedikit sekali contoh-contoh yang dapat diambil dari hal-hal-hal seperti itu.
               Dalam QS.49:12 “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”..
Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat. Dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda: "Betapa bahagianya orang yang tersibukkan mencari aib dan kekurangan dirinya jauh dari mencari aib dan kekurangan orang lain." 
            Karena itu, dengan ibadah ramadhan yang satu bulan penuh telah kita laksanakan, membuat kita mawas diri jangan sampai terjebak didalam kegiatan الْإسْتِغَالُ بِعُيُوْبِ الْخَالْقِ
“Sibuk mencari-cari aib dan kekurangan orang lain,sampai melupakan kekurangan dirinya sendiri”.
Apa kata pepatah Semut diseberang kelihatan sedang gajah dipelupuk mata tidak kelihatan.
Yang Kedua, yang dapat merusak amal itu adalah :
وَقَسْوَةُ الْقَلبِ
Orang yang keras hati”.

Hatinya tu kasar, keras. Beruntung kita kalau oleh Allah diberikan hati yang lembut, yang peka, cepat menerima kebenaran. Sebuah contoh, Umar bin Khattab r.a, orang yang diberikan hati yang keras tapi mudah dan cepat menerima kebenaran.

            Yang dimaksud dengan “Qaswatul qalbi” ini, sudah hatinya keras, kasar, dan tertutup untuk menerima kebenaran. Hatinya itu degil, hatinya itu tertutup, cupik, seperti katak dibawah tempurung, tidak mau menerima kebenaran. Nah, tatkala kita tidak mau menerima kebenaran, kita merasa kitalah yang paling benar.
  1. Padahal Ali bin Abi Thalib berkata: " Lihatlah oleh mu perkataanya dan jangan kau lihat siapa yang mengatakannya." 
            Banyak sekali dalam perjalanan hidup ini orang-orang yang terjebak menjadi pemilik kebenaran. Mengklaim, cuma dia yang benar sementara yang lain salah semua. Akhirnya terjebak juga pada hati yang keras dan kasar seperti tadi. Kerasnya hati terkadang lebih keras dari batu karang.Sulit menerima nasehat.
Hati adalah raja dari kerajaan tubuh manusia. Sementara anggota badan kita yang lain cuma prajurit saja. Kaki hanya berjalan, tangan hanya mengambil, mata hanya melihat, telinga hanya mendengar, dan itu terjadi kalau hati cenderung dan memerintah ke arah situ. Maka benar, ketika Nabi bersabda : “Kalau baik hati maka baiklah seluruh badan, tapi kalau rusak hati maka rusaklah seluruh badan”.


Yang Ketiga, yang merusak amal itu adalah :
وَحُبُّ الدُّ نْيَا
Orang yang terlalu cinta kepada dunia”.

Saya menggunakan kata “terlalu”. Karena cinta kepada dunia bukan hal yang salah, sepanjang dunia itu kita jadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan jangka panjang yakni akhirat dan ridha Allah swt. Tapi “terlalu”, sehingga ia berakar dan berurat di hati, dan kita sulit melepaskannya, ini akan merusak amal. Sebab apa ? Sebab kalau  kegiatan hidup kita sudah dipacu oleh Hubbud dun ya (cinta kepada dunia yang berlebihan), apakah itu cinta pangkat, cinta jabatan, cinta harta, cinta pujian. Kalau semua itu sudah berlebihan dalam hidup kita, kita akan cenderung melakukan hal-hal yang menghalalkan segala cara. Dan ini akhirnya akan merusak nilai amal yang sudah kita kerjakan.

Bukankah ini memang penyakit kita hubbud dun ya ? terlalu cinta kepada dunia, lalu menjilat keatas injak bawah, sikut kiri dan kanan, masa bodoh teman jadi lawan ; lawan jadi teman, asal kita bisa mencapai target dunia. Akhirat?! Akhirat urusan nanti yang penting yang sekarang. Padahal yang nanti itu, ditentukan oleh yang sekarang ini. Kalau beginilah cara kita mencapai tujuan maka kita telah merusak yang nanti itu juga. Karena itu, cinta kepada dunia secara berlebihan akan dapat merusak amal kita.
Merasa hidupnya hanya di dunia saja maka segala aktifitasnya tertuju pada kenikmatan dunia sehingga lupa akan hari esok di
akhirat.
Selama di bulan ramadhan, dimana kita menghadapi renungan-renungan bahwa dunia adalah sesuatu yang bersifat sementara. Sering saya sampaikan, ini dunia; ambil apa yang memang perlu, nikmati apa yang memang boleh, kalau bisa jangan gagal kita di dunia ini. Kalaupun kita gagal, kita kan masih punya akhirat. Ini yang menyebabkan cara kita mencapai dunia tidak menghalalkan segala cara, karena kita yakin akan ada pertanggungan jawab akhirat nanti.

Yang Keempat, yang dapat merusak amal itu adalah
وَ كِلَّةُ الْحَيَاء
Sedikit rasa malu”

Inikan budaya malu sekarang ini sudah setipis kulit ari. Tadi saya katakan, yang tabu sudah orang lakukan secara biasa. Kita tidak mengerti, misalnya ada perempuan dengan bangga cerita,”anak saya sudah tiga, semua tidak ketahuan bapaknya”. Dia cerita secara terbuka di media, dan dia merasa enjoy dengan itu.

            Bayangkan kalau ini lalu diikuti oleh yang lain, bayangkan kalau ini menjadi tradisi di tengah-tengah masyarakat kita. Hal yang memalukan dan memilukan sudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa, tidak ada yang tabu lagi. Padahal malu adalah bagian daripada iman. Kalau tidak ada rasa malu, kuranglah syarat untuk mencapai nilai-nilai keimanan.
Jika seseorang telah kehilangan rasa malu maka akan melakukan apa saja tanpa takut dosa.
            Nah, dengan puasa, kita justru menimbulkan rasa malu yang paling tinggi yaitu malu kepada Allah swt. Kalau tengah hari ramadhan kita makan, tidak seorangpun tahu, tidak seorangpun lihat, dan kita tidak mau melakukan itu, kenapa? Karena kita malu. Malu kepada siapa? Malu kepada Allah swt. Dan ukurannya adalah nurani.

Yang Kelima,  yang merusak amal kita adalah
وَطُوْلُ الْعَمَل
orang yang terlalu panjang angan-angan,terlalu muluk cita-cita”

Silahkan saja, cita-cita digantungkan setinggi bintang di langit, tapi kaki harus tetap berpijak di bumi. Kaki harus tetap berpijak kepada realitas. Kalau tidak, kita akan jadi penghayal kelas berat, tukang ngelamun kelas tinggi, yang hidup cuma mengumpulkan jikalau, andaikata, umpama dan misalnya. Orang sudah pergi bekerja kemana-mana dia masih terjebak disitu.
Merasa hidupnya masih lama di dunia ini sehingga enggan untuk taubat.
Yang Keenam, yang merusak amal itu
وَ ظَالِمٌ لاَيَنْتَهِى
perbuatan zalim yang tidak kita hentikan”.

Zalim, berasal dari kata Zhalama artinya kegelapan. Kita terlahir putih, bersih, suci. Kitalah yang menghitamkan diri kita sendiri, dengan perbuatan-perbuatan yang menentang Allah, dan itu artinya kita zalim kepada diri kita sendiri.

Perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan bagi pelakunya jika tidak segera taubat dan berhenti maka sulit untuk meninggalkan kemaksiatan tsb.
Oleh karena itu, selain kita harus mati-matian meningkatkan amal ibadah kita, sehingga tujuan dari hidup kita yang diharapkan QS.51:56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi/ beribadah kepada-Ku”.
Tetapi kita juga harus tetap waspada terhadap hal-hal yang dapat merusaknya. Dan yang paling sering merusak amal kita adalah perbuatan-perbuatan dari diri kita sendiri yang buruk, yakni hal-hal yang dapat mengotori hati kita.

            Kita sering berusaha keras menjaga agar baju kita tidak kotor. Kita sering berusaha keras menjaga agar kendaraan kita tidak kotor. Tapi kita jarang sekali mati-matian menjaga agar hati kita tidak kotor. Kalau ada yang bertanya,”Mengapa saya ini koq kurang yakin dengan Allah?” Ketahuilah bahwa itu tandanya menunjukkan hati kita ini masih kotor. Inilah yang harus kita waspadai, jangan sampai kita terjebak ke dalam perbuatan yang bisa menyebabkan hati kita ini menjadi kotor. Hati yang kotor akan menyebabkan tumbuhnya berbagai macam penyakit di hati itu sendiri sehingga hati kita menjadi sakit.

Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Penyakit-penyakit hati yang dimaknai dengan sifat-sifat tercela yang ada pada diri manusia, apabila itu mendominasi kehidupan manusia, maka jadilah hatinya menjadi sakit. Penyakit ini berbahaya karena merupakan keinginan atas cinta manusia kepada dunia, yang diwujudkan dalam bentuk ingin mendapat pujian dan sanjungan dari manusia atas perbuatannya.

Tanda hati yang sakit itu adalah, pertama, tidak merasa sulit melakukan perbuatan maksiat. Kedua enggan memberikan santapan rohani yang bermanfaat bagi hatinya  dan cenderung kepada makanan rohani yang memudharatkan hatinya. Adapun penyakit hati diantaranya adalah ghibah (membicarakan keburukan orang lain), hasud (dengki), sombong, kikir, dendam,riya’, munafik dan sebagainya.

Semoga kita semua dijauhkan dari 6 perkara ini sehingga tetap istiqomah dalam ketaqwaan. Sehingga derajat taqwa tetap ada pada diri kita sebagaimana tujuan melaksanakan kewajiban dansunnah ramadhan....amin