6 Hal yang
merusak amal
وَبَرَكَاتُهُوَرَحْمَةُاللهِ اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ
ALHAmdulillah, segala puja dan puji syukur mutlak hanya milik Allah swt. Yang
telah memberikan kenikmatan kepada kita, khususnya nikmat iman dan Islam serta
kesehatan, yang mana tidak pernah sedetikpun Allah berhenti memberikan
nikmatnya kepada kita semua. Khususnya hari ini, kita telah berada dibulan
Syawal 1434 H. Yang mana satu bulan penuh kita telah dilatih dan dibiasakan
dengan amalan-amalan dibulan suci Ramadhan, mudah-mudahan hari ini, kita
benar-benar kembali kepada fitrah (suci, bersih, putih), seperti bayi yang baru
dilahirkan oleh ibunya. Aamiin.
Shalawat beriring salam, semoga selalu tercurahkan kepada sosok seorang rasul
utusan Allah yang ma’sum (terpelihara dari dosa dan kesalahan), rasul yang
sangat mencintai umatnya dan mudah memaafkan sesamanya, rasul yang insya Allah
akan memberikan syafa’at kepada kita di hari kemudian, beliaulah baginda Nabi
besar Muhammad saw. Juga kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh umatnya
yang tetap istiqamah dalam menjalankan sunnahnya hingga pada hari semua amal
akan diperhitungkan.
Sepanjang satu bulan ramadhan yang telah kita lalui,
menurut kemampuan yang ada pada diri kita, kita telah banyak mengisi waktu
dengan berbagai kegiatan-kegiatan ibadah. Sejak puasa itu sendiri, i’tikaf di
masjid, tadarus Al-Quran, melaksanakan shalat tarawih, menyantuni anak yatim,
berbuka puasa bersama, dan seterusnya.
Sungguhpun demikian, kita tetap harus melakukan muhasabah. Karena pada dasarnya
ibadah merupakan satu dari keseluruhan yang bisa saja dirusak oleh hal-hal lain
diluar ibadah itu sendiri. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal-hal yang
demikian, saya ingin menyampaikan sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Imam
Ad-Dailami, dari ‘Addi bin Hatim. Bahwa Rasulullah saw bersabda :
سِتَّةُ اَشْيَاءَ تُحبِةُ الاَعمَالَ
Sittatu asyaa yuhobiitul akmala
“Ada enam perkara yang dapat merusak suatu amal”
Merusak
shalat kita, merusak puasa kita, merusak zakat kita, bahkan merusak haji kita,
dan seterusnya. Inilah yang harus kita waspadai. Kita merasa kita sudah
melakukan amal begitu banyak, tahu-tahu dirusak oleh hal-hal lain yang ada pada
diri kita.
Apakah ke
enam perkara yang dapat merusal amal itu?
Apa enam perkara yang dapat merusak amal itu ?
1.
لْإسْتِغَالُ بِعُيُوْبِ الْخَالْقِ
Al istighlal bi’uyubil kholqi
2 .وَقَسْوَةُ الْقَلبِ
Wa Qaswatul qulub (hati yang keras)
3 ;وَحُبُّ الدُّ نْيَا
Wa hubud dunia
4 .وَ كِلَّةُ الْحَيَاء
Wa Qillatul haya’(sedikit rasa malunya)
5. وَطُوْلُ الْعَمَل
Wa Thulul amal (panjang angan-angan)
6 .وَ ظَالِمٌ لاَيَنْتَهِى
Dhulmun la yantahi (kezaliman yang tak pernah berhenti)
Yang
pertama,
الْإسْتِغَالُ بِعُيُوْبِ الْخَالْقِ
“Seseorang terlalu sibuk mencari-cari aib,
mencari-cari kekurangan orang lain”.
Sekarang ini
oleh budaya kita, mencari dan membicarakan kekurangan orang lain bukan lagi hal
yang tabu. Dikorek, dicari, kemudian berakhir dengan fitnah, dan begitu
seterusnya. Dan itu merusak nilai amal yang sudah kita kerjakan. Sibuk dengan
aib orang lain, lalu lupa kepada kekurangan dirinya sendiri. Bukankah dalam
hadits lain Nabi mengajarkan :
تُوْبَ لِمَنْ سَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ
عُيُوْبِ النَّاسِ
“Beruntunglah orang yang kekurangan pada dirinya menyebabkan dia sibuk,
sehingga tidak sempat lagi mencari-cari kekurangan orang lain”.
Tapi
sebaliknya, akan sangat celakalah orang, kalau waktunya habis untuk mencari aib
dan kekurangan orang lain, lalu melupakan aib dan kekurangan yang ada pada
dirinya sendiri.
Sibuk dengan aib dan kekurangan orang lain, dan asik tenggelam didalamnya.
Membicarakan si A, membicarakan si B, membicarakan si ini, membicarakan si itu.
Sehingga menyebabkan kita terlena dan tidak sadar akan aib dan kekurangan yang
ada pada diri kita.
Dalam dunia
jurnalistik ada ungkapan “Bad news is good news” (berita jelek itulah
berita bagus). Berita yang bagus biasa-biasa saja. Tapi berita yang jelek kalau
diangkat ke permukaan, dikemas sedemikian rupa, bisa menjadi berita yang bagus,
sehingga menarik, kejutan, membuat penasaran, menimbulkan rasa ingin tahu, dan
bagitu seterusnya.
Termasuk dalam konteks ini, setiap hari sekarang ini kita dijejali dengan
tayangan-tayangan yang sibuk dengan aib dan kekurangan orang lain. Sehingga
lalu itu menjadi budaya kita. Dan hal-hal yang tabu tidak lagi dianggap tabu,
hal-hal yang sebenarnya memalukan sudah dianggap tidak memalukan, sementara
sedikit sekali contoh-contoh yang dapat diambil dari hal-hal-hal seperti itu.
Dalam QS.49:12 “Hai orang-orang yang beriman,
jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari
purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang”..
Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa menutupi
aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat. Dalam
hadis lain Rasulullah saw bersabda: "Betapa bahagianya orang yang
tersibukkan mencari aib dan kekurangan dirinya jauh dari mencari aib dan
kekurangan orang lain."
Karena itu, dengan ibadah ramadhan yang satu bulan penuh telah kita laksanakan,
membuat kita mawas diri jangan sampai terjebak didalam kegiatan الْإسْتِغَالُ
بِعُيُوْبِ الْخَالْقِ
“Sibuk
mencari-cari aib dan kekurangan orang lain,sampai melupakan kekurangan dirinya
sendiri”.
Apa kata pepatah Semut diseberang kelihatan sedang gajah dipelupuk mata
tidak kelihatan.
Yang Kedua, yang dapat merusak amal itu adalah
:
وَقَسْوَةُ الْقَلبِ
“Orang yang keras hati”.
Hatinya tu
kasar, keras. Beruntung kita kalau oleh Allah diberikan hati yang lembut, yang
peka, cepat menerima kebenaran. Sebuah contoh, Umar bin Khattab r.a, orang yang
diberikan hati yang keras tapi mudah dan cepat menerima kebenaran.
Yang dimaksud dengan “Qaswatul qalbi” ini, sudah hatinya keras, kasar,
dan tertutup untuk menerima kebenaran. Hatinya itu degil, hatinya itu tertutup,
cupik, seperti katak dibawah tempurung, tidak mau menerima kebenaran. Nah,
tatkala kita tidak mau menerima kebenaran, kita merasa kitalah yang paling
benar.
- Padahal Ali bin Abi Thalib berkata: " Lihatlah oleh mu perkataanya dan jangan kau lihat siapa yang mengatakannya."
Hati adalah raja dari kerajaan tubuh manusia.
Sementara anggota badan kita yang lain cuma prajurit saja. Kaki hanya berjalan,
tangan hanya mengambil, mata hanya melihat, telinga hanya mendengar, dan itu
terjadi kalau hati cenderung dan memerintah ke arah situ. Maka benar, ketika
Nabi bersabda : “Kalau baik hati maka baiklah seluruh badan, tapi kalau
rusak hati maka rusaklah seluruh badan”.
Yang Ketiga,
yang merusak
amal itu adalah :
وَحُبُّ الدُّ نْيَا
“Orang yang terlalu cinta kepada dunia”.
Saya menggunakan kata “terlalu”. Karena cinta kepada
dunia bukan hal yang salah, sepanjang dunia itu kita jadikan sebagai alat untuk
mencapai tujuan jangka panjang yakni akhirat dan ridha Allah swt. Tapi
“terlalu”, sehingga ia berakar dan berurat di hati, dan kita sulit
melepaskannya, ini akan merusak amal. Sebab apa ? Sebab kalau kegiatan
hidup kita sudah dipacu oleh Hubbud dun ya (cinta kepada dunia yang
berlebihan), apakah itu cinta pangkat, cinta jabatan, cinta harta, cinta
pujian. Kalau semua itu sudah berlebihan dalam hidup kita, kita akan cenderung
melakukan hal-hal yang menghalalkan segala cara. Dan ini akhirnya akan merusak
nilai amal yang sudah kita kerjakan.
Bukankah ini memang penyakit kita hubbud dun ya
? terlalu cinta kepada dunia, lalu menjilat keatas injak bawah, sikut kiri dan
kanan, masa bodoh teman jadi lawan ; lawan jadi teman, asal kita bisa mencapai
target dunia. Akhirat?! Akhirat urusan nanti yang penting yang sekarang.
Padahal yang nanti itu, ditentukan oleh yang sekarang ini. Kalau beginilah cara
kita mencapai tujuan maka kita telah merusak yang nanti itu juga. Karena itu,
cinta kepada dunia secara berlebihan akan dapat merusak amal kita.
Merasa hidupnya hanya di dunia saja maka segala aktifitasnya tertuju pada
kenikmatan dunia sehingga lupa akan hari esok diakhirat.
Selama di bulan ramadhan, dimana kita menghadapi renungan-renungan
bahwa dunia adalah sesuatu yang bersifat sementara. Sering saya sampaikan, ini
dunia; ambil apa yang memang perlu, nikmati apa yang memang boleh, kalau bisa
jangan gagal kita di dunia ini. Kalaupun kita gagal, kita kan masih punya
akhirat. Ini yang menyebabkan cara kita mencapai dunia tidak menghalalkan
segala cara, karena kita yakin akan ada pertanggungan jawab akhirat nanti.
Yang
Keempat, yang dapat
merusak amal itu adalah
وَ كِلَّةُ الْحَيَاء
“Sedikit rasa malu”
Inikan budaya malu sekarang ini sudah setipis kulit
ari. Tadi saya katakan, yang tabu sudah orang lakukan secara biasa. Kita tidak
mengerti, misalnya ada perempuan dengan bangga cerita,”anak saya sudah tiga,
semua tidak ketahuan bapaknya”. Dia cerita secara terbuka di media, dan dia
merasa enjoy dengan itu.
Bayangkan kalau ini lalu diikuti oleh yang lain, bayangkan kalau ini menjadi
tradisi di tengah-tengah masyarakat kita. Hal yang memalukan dan memilukan
sudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa, tidak ada yang tabu lagi. Padahal
malu adalah bagian daripada iman. Kalau tidak ada rasa malu, kuranglah syarat
untuk mencapai nilai-nilai keimanan.
Jika seseorang telah kehilangan rasa malu maka akan melakukan apa saja tanpa
takut dosa.
Nah, dengan puasa, kita justru menimbulkan rasa malu yang paling tinggi yaitu
malu kepada Allah swt. Kalau tengah hari ramadhan kita makan, tidak seorangpun
tahu, tidak seorangpun lihat, dan kita tidak mau melakukan itu, kenapa? Karena
kita malu. Malu kepada siapa? Malu kepada Allah swt. Dan ukurannya adalah
nurani.
Yang Kelima,
yang
merusak amal kita adalah
وَطُوْلُ الْعَمَل
“orang yang terlalu panjang angan-angan,terlalu muluk cita-cita”
Silahkan saja, cita-cita digantungkan setinggi bintang
di langit, tapi kaki harus tetap berpijak di bumi. Kaki harus tetap berpijak
kepada realitas. Kalau tidak, kita akan jadi penghayal kelas berat, tukang
ngelamun kelas tinggi, yang hidup cuma mengumpulkan jikalau, andaikata, umpama
dan misalnya. Orang sudah pergi bekerja kemana-mana dia masih terjebak disitu.
Merasa hidupnya masih lama di dunia ini sehingga enggan untuk taubat.
Yang Keenam, yang merusak amal itu
وَ ظَالِمٌ لاَيَنْتَهِى
“perbuatan zalim yang tidak kita hentikan”.
Zalim, berasal dari kata Zhalama artinya
kegelapan. Kita terlahir putih, bersih, suci. Kitalah yang menghitamkan diri
kita sendiri, dengan perbuatan-perbuatan yang menentang Allah, dan itu artinya
kita zalim kepada diri kita sendiri.
Perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan bagi
pelakunya jika tidak segera taubat dan berhenti maka sulit untuk meninggalkan
kemaksiatan tsb.
Oleh karena itu, selain kita harus mati-matian meningkatkan amal ibadah
kita, sehingga tujuan dari hidup kita yang diharapkan QS.51:56 “Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi/ beribadah
kepada-Ku”.
Tetapi kita
juga harus tetap waspada terhadap hal-hal yang dapat merusaknya. Dan yang
paling sering merusak amal kita adalah perbuatan-perbuatan dari diri kita
sendiri yang buruk, yakni hal-hal yang dapat mengotori hati kita.
Kita sering berusaha keras menjaga agar baju kita tidak kotor. Kita sering
berusaha keras menjaga agar kendaraan kita tidak kotor. Tapi kita jarang sekali
mati-matian menjaga agar hati kita tidak kotor. Kalau ada yang
bertanya,”Mengapa saya ini koq kurang yakin dengan Allah?” Ketahuilah bahwa itu
tandanya menunjukkan hati kita ini masih kotor. Inilah yang harus kita
waspadai, jangan sampai kita terjebak ke dalam perbuatan yang bisa menyebabkan
hati kita ini menjadi kotor. Hati yang kotor akan menyebabkan tumbuhnya
berbagai macam penyakit di hati itu sendiri sehingga hati kita menjadi sakit.
Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun
mengandung penyakit. Penyakit-penyakit hati yang dimaknai dengan sifat-sifat
tercela yang ada pada diri manusia, apabila itu mendominasi kehidupan manusia,
maka jadilah hatinya menjadi sakit. Penyakit ini berbahaya karena merupakan
keinginan atas cinta manusia kepada dunia, yang diwujudkan dalam bentuk ingin
mendapat pujian dan sanjungan dari manusia atas perbuatannya.
Tanda hati yang sakit itu adalah, pertama, tidak
merasa sulit melakukan perbuatan maksiat. Kedua enggan memberikan santapan
rohani yang bermanfaat bagi hatinya dan cenderung kepada makanan rohani
yang memudharatkan hatinya. Adapun penyakit hati diantaranya adalah ghibah
(membicarakan keburukan orang lain), hasud (dengki), sombong, kikir,
dendam,riya’, munafik dan sebagainya.
Semoga kita semua dijauhkan dari 6 perkara ini sehingga tetap
istiqomah dalam ketaqwaan. Sehingga derajat taqwa tetap ada pada diri kita
sebagaimana tujuan melaksanakan kewajiban dansunnah ramadhan....amin